Kamis, 28 Januari 2016

Cerbung, Purnamalam 1


Di suatu kuburan itu, di hadapan nisan itu, berdirilah seorang lelaki.

"Hey, mengapa kamu bisa mati?"
"Hey, tidakkah kamu mengasihani mereka yang kamu tinggalkan itu?"
"Hey, jawablah."

"....."



'JEDUG!" Mungkin begitulah suara yang dihasilkan dari pertemuan kaki dan nisan itu. Yang tak hanya sekali. Yang tak hanya sebentar. Pula dihampiri tangan.

Ada yang berkoak. Ada yang mengepak. Ada yang mendecit. Ada yang terbayang. Ada yang terisak. Tapi tak ada yang retak. Hanya ada yang terluka.

Lalu jarum menunjuk 12. Purnama bukan milik kamis tanggal duabelas. Sang lelaki tidak menunduk. Sang lelaki tidak menengok. Purnama seakan mendekat. Tapi ada yang lebih dekat.

Yang di antara dia dan bulan itu. Yang membawa debar itu. Yang mengingatkan kliwon itu.

"Mengapa? Aku pun tak tahu."
"Kasihan? Aku tidak peduli."
"Tetesan air pun bisa membelah batu, jadi hentikanlah. Ini nisan kualitas impor."
"Ah, tadi minta jawaban, sekarang minta apa? Makan? Tutup mulutmu!"

Begitulah reuni yang menjadi kenangan tak terlupakan sang  lelaki itu.
Begitulah kejadian kemarin itu.

Dan sekarang, di tempat yang sama. Sudah tidak sama.

"Jadi... bagaimana rasanya berpindah alam?"

"Seperti tenggelam, tidak menyenangkan."
"Sudah, cepat kemarikan."

"Tak sabar sekali."

"Ayo, cepat masukkan saja."

"Iya, iya, ini."

"Mmhh, ah, enaknya.."

"Tentu saja, ini sudah lama dibiarkan."

"Pantas asin sekali. Benar-benar seleraku."

"Ya, karena ini milikku."

"Mengapa bisa berbeda rasanya?"

"Rahasia perusahaan."
"Tapi, tak kusangka ikan asin bisa menjadi sesajen."

"Apapun bisa, sesuai selera."

"Kamu gemar ikan asin?"

"Bukan, hanya ngidam."

"Ah."
Ya, menjadi kuntilanak itu ada alasannya.

"Jadi... hari ini kenapa kau datang lagi?"

"Ingin saja. Tidak boleh?"

"Boleh saja. Tapi orang tuamu tidak khawatir? Malam-malam di kuburan."

"Bila kau lihat di sana, di blok c, pojok tenggara, itu nisan mereka."

"Eh!? Sejak kapan!?"

"Sudah lama. Sekarang hanya ada bibi dan paman, dan aku aman."

"Maaf yah."

"Sudahlah, aku tidak suka ketika orang meminta maaf begitu."

"Hm?"

"Maaf? Maaf mengingatkan? Maaf kasihan? Bagaimanapun juga, aku merasa direndahkan."
"Setidaknya ubahlah bentuk kalimatnya! 'Tabah, ya' atau 'kamu kuat ya' atau apalah."
"Puji, doakan, jangan minta maaf."

"Ok.."

"Ah, sudahlah. Aku pulang."

"Ngambek?"

"Entah, mungkin lelah."
"Malam."

"Malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayo, mohon bantu memupuk rasa percaya diri sang admin.
Anon, siapapun anda, saya akan menerima pesan apapun dari anda.