Colok sana. Colok sini.
Ya, lambang lelaki memang disebut sebagai sang penombak, sang penusuk.
Memang lelaki itu kerjanya menusuk saja.
Dan itulah yang kulakukan demi sesuap nasi.. eh, roti. Aku lebih suka roti. Mungkin karena ibuku yang kalau zaman dulu disebut noni itu. Tapi roti yang kusuka bukan roti tebal begitu. Aku suka roti tanpa pengembang seperti roti maryam atau nan. Ah, mungkin bukan karena ibuku, tapi kakekku itu, Abdul manan itu. Ya, itu mungkin alasan mengapa aku lebih suka membeli tepung, garam, telur, mentega, dan susu kental manis. Bukan karena kalau dihitung ternyata harganya lebih murah dari nasi dan lauk. Ya, ini karena seleraku. Ya, aku bukan orang yang kikir. Maka, tidak, aku tidak sedang meyakinkan diriku dan dirimu dengan alasan picisan.
Nah, kembali menuju topik pertama kita. Menusuk adalah profesiku. Dan ini bukan metafora atau apapun yang bisa kau bayangkan dalam benakmu itu, pekerjaanku memang menusuk. Namun berbeda dengan yang mungkin ada dalam benakmu itu, apa yang kutusuk bukanlah spesialisasi profesi yang aku dalami ini. Justru menusuk itulah keahlianku. Dan begitulah alasan aku memiliki banyak julukan. Tapi dari sekian banyak yang ada, yang paling kusuka adalah "Tukang tusuk".
Ya, akulah sang tukang tusuk itu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ayo, mohon bantu memupuk rasa percaya diri sang admin.
Anon, siapapun anda, saya akan menerima pesan apapun dari anda.